
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Kalimantan. Pada musim kemarau 2026, kondisi kering membuat api lebih mudah menyebar, sementara sebagian wilayah yang terbakar merupakan lahan gambut yang terkenal sulit dipadamkan.
Lantas, mengapa kebakaran di Kalimantan bisa begitu sulit dikendalikan? Ternyata bukan hanya karena cuaca panas. Ada sejumlah faktor yang saling memperkuat dan membuat api cepat meluas sekaligus sulit benar-benar padam.

Banyak kasus karhutla bermula dari aktivitas manusia, terutama pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat menyebar ketika kondisi lingkungan sedang kering dan angin bertiup cukup kencang.
Selain pembakaran lahan, sumber api juga dapat berasal dari kelalaian seperti api unggun yang tidak benar-benar dipadamkan, pembakaran sampah, hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan.
Artinya, ketika kondisi alam sedang sangat kering, satu sumber api kecil saja dapat berubah menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan.
Kemarau panjang membuat kadar air di tanah dan tumbuhan menurun. Semak, ilalang, daun kering, serta material organik lainnya kemudian berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.
Kondisi ini semakin berbahaya ketika curah hujan rendah berlangsung dalam waktu lama. Api pun lebih mudah menyala dan menyebar dari satu titik ke titik lainnya.
Fenomena El Niño turut memperburuk kondisi karena dapat mengurangi curah hujan dan memperpanjang periode kering. Namun, El Niño bukanlah sumber api secara langsung. Fenomena ini lebih tepat disebut sebagai faktor yang menciptakan kondisi lingkungan semakin mudah terbakar.
Ketika lahan sudah kering, vegetasi kehilangan kelembapan, dan sumber api muncul, kebakaran dapat berkembang jauh lebih cepat.
Inilah salah satu alasan utama mengapa karhutla di Kalimantan sangat sulit dipadamkan.
Pada lahan gambut, api tidak hanya membakar permukaan. Bara dapat merambat ke lapisan bawah tanah dan membakar material organik yang berada di dalam gambut. Akibatnya, api terkadang tidak terlihat dari permukaan, tetapi masih terus membara di bawah tanah.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman menjadi lebih rumit. Air yang disiramkan ke permukaan belum tentu langsung mencapai sumber bara di dalam tanah.
Bahkan setelah kobaran api terlihat padam, bara yang tersisa dapat kembali menyala ketika kondisi kembali kering atau mendapat pasokan oksigen.
Angin menjadi faktor penting lainnya. Ketika api sudah menyala di lahan yang kering, hembusan angin dapat membuat api bergerak lebih cepat dan menyebarkan bara ke area di sekitarnya.
Kondisi angin juga menjadi salah satu tantangan dalam operasi pemadaman karena bara dapat kembali muncul di lokasi yang sebelumnya dianggap sudah padam.
Karhutla di Kalimantan menunjukkan bahwa persoalan kebakaran bukan hanya tentang seberapa cepat petugas memadamkan api. Pencegahan menjadi bagian yang sangat penting, terutama dengan mengurangi sumber api dari aktivitas manusia, melakukan deteksi dini, menjaga tata air lahan gambut, serta meningkatkan patroli pada periode rawan kebakaran.
Kementerian Kehutanan juga melakukan pembasahan lahan gambut dan pengaturan pintu air untuk menjaga tinggi muka air serta mengurangi risiko kebakaran.
Dengan kombinasi pencegahan, pemantauan, dan penanganan yang cepat, risiko kebakaran meluas dapat ditekan. Sebab, pada lahan gambut, memadamkan api di permukaan belum tentu berarti kebakaran benar-benar selesai.





